Sabtu, 29 April 2017

Bukan Karena Tetapi Meskipun

Bukan karena, tetapi meskipun

Cinta. Suka. Sayang. Apapun yang disebutkan manusia sejagad, intinya ini tentang rasa.
Rasa teramat dalam yang kurasakan, entah karena atau meskipun.
Rasa takut kehilangan sosok yang selalu tersimpan dalam hati yang terdalam.
Rasa ini bermula ketika terbiasa, terbiasa main bareng, terbiasa saling membutuhkan, terbiasa kemana-mana bareng, tumbuh menjadi benih, terus tumbuh tinggi, berbunga, dan hingga akhirnya bermekaran.
Mekar yang indah.
Deskripsiku tentang rasa ini adalah indah. Bagaimana denganmu? Kuharap sama indahnya.

Kurasa, aku terlalu jatuh, jatuh yang indah, jatuh yang tidak berdarah maupun tergores, jatuh berkali-kali. Tapi aku tidak menyesal telah jatuh cinta, atau jatuh hati? Apa sajalah, pokoknya asal kau tahu apa maksudku ini.

Jatuh yang kurasa, berkali-kali. Rasa yang hadir berbeda-beda. Sedih-suka-bahagia-nelangsa-gembira-merana, ya seperti itu saling melengkapi. Jatuhku ini tidak kusesali.

Pernyataannya, meskipun banyak yang kurasakan dalam rasa ini, aku tetap suka. Sebab ini tentang "meskipun", bukan "karena".

Maaf kalau aku lancang, maaf kalau aku seperti ini. Maafkan aku.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari isi hatiku. ❤

Rabu, 12 April 2017

Lari

Dan, kamu harus bangkit untuk mencapai harapan yang baru saja kau tulis. 
Selemas apapun kaki melangkah, kudu melangkah. 
Karena berdiam diri sama dengan menyerah. 
Mau nyerah? 
Perjalananmu sudah sejauh ini.

Ingat, di rumah ada yang selalu merapalkan doa. 
Ingat, harapan mereka untukmu yang sudah sejauh ini melangkah.

Jangan berhenti disini, jalan lagi, kalau perlu lari lagi, sampai darah tak mengalir lagi.

Harapan

Pada Tuhanku, kucurahkan rasaku
Pada pagi yang bersinar, pinjami aku terangmu
Pada siang yang panjang, tuntunlah aku
Pada malam yang gelap, terangi aku dalam gelapku

Pada keadaan yang menghimpit
Semoga selalu ada hikmah dibalik rasa sakit
Pada keadaan yang sulit
Semoga selalu ada kekuatan untuk bangkit

Peluh, air mata, menetes dalam rongga jiwa
Sedih, kecewa, terkubur dalam luka
Senyum, tawa, terukir dalam doa
Harapan, mimpi, dan asa, akan kugapai dengan usaha

Langkah kaki yang terseok-seok ini
Langkah kaki tergores besi
Langkah kaki tergores kerikil berduri
Langkah kaki kan tetap tegar sampai nanti

Selalu tersimpan harapan indah dibalik semua tinta goresan yang dituliskan Tuhan ⭐

Jumat, 28 Oktober 2016

Resensi Novel Ayah Karya Andrea Hirata

Resensi Novel Ayah Karya Andrea Hirata, Membaca itu asik. Apalagi membaca novel. Padahal seharusnya bukan hanya novel yang harus dibaca. Hehe, gapapalah, bonus aja mumpung minat membaca masih ada dalam diriku. Karena banyak yang bilang, dan memang kutemui juga setelah melaksanakan KPL alias PPl (versi jaman doeloe) minat membaca memang bisa dihitung jari. 

Kenapa? Apa masalahnya? Gadget secara tidak sadar telah membuat suatu gravitasi dalam hidup, seakan-akan kalau tanpa gadget kita tidak bisa hidup, aku pun juga mengakuinya. Tapi sudahlah, kita berdoa saja agar minat membaca itu selalu bertambah di era modern ini dengan hadirnya novel, karya ilmiah, blog, status, tweet, caption maaf merembet kemana-mana. -_- intinya, marilah kita tanamkan budaya gemar membaca sejak sempat, karena membaca adalah travelling paling mudah.

Kali ini saya akan menceritakan sedikit review tentang novel yang sore ini baru saja saya khatamkan, alhamdulillah.
Reviewnya sudah saya cantumkan di akun Goodreads yang terhubung dengan akun sosial media, Facebook saya juga kok, kurang lebih reviewnya seperti ini, 

sudut pandang yang benar-benar diluar nalar. amazing novel, seperti novel terdahulunya Andrea Hirata.
Awal ceritanya berkisah humor, namun ternyata berakhir mengharu biru.
Kisah cinta Sabari kepada Zorro a.k.a Amiru menunjukkan bagaimana ayah yang mencintai anaknya dengan tulus hati. Kisah cinta Sabari dengan Marlena yang membuat geram namun menyayat hati, berakhir dengan romantisme yang berbeda.

Pesan moralnya, sadari apa yang sudah didapatkan sekarang, dijaga, jangan sampai menyesal dikemudian hari ketika sudah kehilangan.

Terima kasih sudah mau membaca post #Isya, semoga bermanfaat. Apabila ada perkataan yang kurang berkenan saya memohon maaf kepada pembaca. :)

Kamis, 13 Oktober 2016

Resensi Novel Pulang Karya Tere Liye

Resensi Novel Pulang Karya Tere Liye. Novel yang menceritakan tentang perjalanan pulang. Alur cerita yang maju-mundur membuat tegang, bertanya apa yang akan terjadi berikutnya, menerka dengan imajinasi cerita selanjutnya, memacu adrenalin layaknya seperti menonton film action.
Perjalanan pulang. Benar-benar "pulang" pada hakikat yang sebenarnya. Ketika rasa takut menghantui karena kehilangan semangat, motivasi, merasa ingin menyerah pada hal yang fana dan mudah sirna, saat itulah ada yang menunggumu untuk pulang.

Beberapa cuplikan yang kupetik dari novel Pulang.
"Samurai adalah perjalanan hidup, Bujang.
"Tapi saat kau tiba pada titik itu, maka kau akan mengerti dengan sendirinya. Itu perjalanan tidak mudah, Bujang. Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu, tapi diri sendiri, menaklukkan monster yang ada di dirimu. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja."
"Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran."
"Penyerangan apa pun yang tidak berhasil menghabisi kita, justru akan membuat kita semakin kuat. Penyerbuan apa pun yang tidak berhasil membenamkan kita, justru akan membuat kita berdiri semakin tegak.
Kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain.
Belum pernah aku melihat sebuah kajian yang begitu mendalam dan begitu detail. Kau seperti berada di dalamnya."
"Semoga kau senantiasa sukses di sana, Nak. Kau tahu, Bujang, tiada pernah alpa walau semalam pun, tiada pernah tinggal walau sehari pun, mamak kau mendoakan kau yang terbaik. Dia selalu merindukanmu, selalu menyebut namamu dalam doa semasa hidup. Ingatlah apa pun pesan namak kau, Bujang. Patuhi hingga kapan pun."

Semoga resensi yang kutulis, yang kucuplik ini bermanfaat. Jangan pernah bosan membaca. Karena dengan membaca maka jendela dunia kau buka. :)

Rabu, 05 Oktober 2016

Resensi Novel Trilogi Jingga dan Senja Karya Esti Kinasih

Resensi Novel Trilogi Jingga dan Senja Karya Esti Kinasih

Suka aja sih baca novel, teenlit, komik, apapun asal bisa dibaca lahap aja sih. :D

Karena, belajar ga harus di kelas. Belajar bisa dimana saja dan kapan saja, dengan media apa saja. Aku banyak belajar dari apa yang kubaca meskipun itu dari tulisan, lebih tepatnya baca karya orang. Dari membacanya pasti ada aja yang didapat, entah itu tentang sikap, karakter, moral, gaya hidup, sejarah, pengetahuan, cinta, sekolah, kuliah, dan banyak lainnya. Belajar memahami dari membaca itu perlu kemudian akan berkembang menjadi mendengarkan dan melaksanakan yang baik dari apa yang dibaca, yang jelek disimpan saja jangan serta merta dibuang karena filter itu perlu.

Novel Teenlit ini, ketiganya karya Esti Kinasih: Jingga dan Senja, Jingga dalam Elegi, dan Jingga untuk Matahari menjadi bacaan yang mudah dipahami namun cukup menguras tenaga. Cerita keluarga yang terpaksa bercerai karena ego masing-masing pasangan sehingga memperebutkan hak asuh anak kembar identik namun berbeda karakter. Rasa kehilangan yang sangat tentang apa itu nama keluarga, kehilangan jati diri hingga terpaksa menjadi bayangan kembarannya. Cerita pergolakan hati yang menyayat hati, menguras emosi dan air mata. (siap-siap tissue) percintaan masa SMA hingga Kuliah yang tidak mudah. Perkelahian, persahabatan yang berjalan berdampingan walau harus menjalani perang. Ah sungguh novel yang sangat menyentuh.

Belajar dari isi keseluruhan teenlit ini: hargai apa yang kamu dapatkan, jaga apa yang kamu dapatkan, keluarga adalah kunci utama dari kebahagiaan, sahabat sejati adalah penopang serta pendamping disetiap keadaan, ketulusan-rasa sayang-mencintai-percaya-rela berkorban tanpa pamrih itu kunci dalam menjalin hubungan, dengan keluarga, sahabat, pacar, lingkungan sekitar, serta orang disekitar kita.

Kalimat yang kucuplik dari teenlit ini dibagian epilognya, "Seperti janji matahari di langit senja. Walaupun sempat menghilang beberapa saat, walaupun sempat membuat gelap sekeliling, namun kedatangannya untuk kembali menyinari bagian tergelap itu pasti. Sepasti kebahagiaan baru yang datang dalam kehidupan kedua matahari kembar tersebut."

Tiga matahari, Matahari Senja, Jingga Matahari, dan Matahari Jingga.

Minggu, 25 September 2016

Pasca Penerimaan Kado

Pasca Penerimaan Kado. Kado apa? Kapan menerima kado? Coba baca ulang tulisanku tentang Kado Istimewa Ranu Kumbolo.

Bulan kelima kuterima kado yang kuharapkan sejak lama. Padahal ulang tahunku berada pada bulan kedelapan. Tak mengapa, karena memang kado tidak hanya bisa diberikan saat ulang tahun, saat kita merasa telah mencapai sesuatu juga tak apa kita mendapatkan hadiah atau kado. Apalagi kado itu sangan dinantikan sejak lama.

Berawal dari Surat Terbuka dan Balasan dari surat terbuka tersebut yang kutulis, kemudian Kado Istimewa yang kudapat. Hingga sekarang Pasca Penerimaan Kado, apa yang selama ini kulakukan? Sungguh menjadi mahasiswa tingkat (hampir) akhir itu suatu kebanggaan sekaligus suatu permasalahan. Kenapa seperti itu? Suatu kebanggan karena menjadi senior meskipun masih ingin menjadi maba (mahasiswa baru) :D dan suatu permasalahan apabila kita bingung memulai mengerjakan sesuatu yang biasa disebut Skripsi.

Semester ketujuh. Semester yang sedang kutempuh saat ini. Semester yang tidak ada kuliah tatap muka dengan dosen bersama teman satu offering. Yang ada hanyalah KPL atau istilah terdahulunya yaitu PPL dan Seminar Pra Skripsi. Aku masih pada tahapan ini. KPL berlalu beberapa hari silam karena KPL ku gelombang pertama.

Dilema karena merasa menerima kado dengan Pasca Penerimaan Kado yang berjarak agak lama membuatku merasa "Hal apa saja yang kulakukan hingga belum adanya progress yang signifikan untuk Seminar Pra Skripsi ku?"

Mengerjakan Seminar Pra Skripsi hingga Skripsi adalah suatu hal yang saling berkesinambungan. Komunikasi yang biasanya kita lakukan dengan sesama mahasiswa, sekarang sedikit bertambah dengan adanya komunikasi antara mahasiswa dengan dosen pembimbing. Jangan pernah bosan berkomunikasi dengan dosen pembimbing, karena beliaulah yang akan sangat berjasa membimbing kita untuk menguasai apa yang kita rancang untuk menuju Skripsi, yang sangat berjasa menjadi penasihat apabila kita hampir kehilangan arah.

Aku tahu, semakin lama hidup didunia, akan semakin banyak permasalahan yang akan kuhadapi. Hal ini membuatku mau tidak mau harus terus belajar bagaimana menghadapi dan menyelesaikan. Karena menghindar bukan solusi. Apalagi menghindar dari bimbingan bersama dosen pembimbing, karena sejak kali pertama aku diputuskan akan bersama kedua dosen pembimbingku, beliau berdua pun mengaku bahwa jangan pernah menghindar dari bimbingan.

Terus pacu semangat untuk mendapatkan imbuhan dibelakang nama, memakai toga, memindahkan tali toga, membahagiakan orang tua dan keluarga dengan wisuda. Karena mengerjakan Skripsi tidak hanya butuh kepintaran, semangat, tetapi juga niat. Ganti mindset untuk kata "lelah" menjadi "lillah", sebab Gusti Allah Mboten Sare. Teruslah belajar dan membaca apapun itu.

Selamat mengejar target demi mencapai target. Apapun itu, semangatlah. Yakinkan diri bahwa Aku Bisa.