Minggu, 22 April 2018

Menjadi Bayang-bayang

Menjadi bayang-bayang

Menjadi bayang-bayang.
Hanya bayang-bayang.
Yang dibungkus, dipupuk dalam suatu kisah semu.
Seorang kawan. Kau. Kawan yang mengagumkan, katamu.
Kawan yang menjadikan dirinya sebagai tameng yang berada di garis terdepan.
Tanpa ingin melihat kawannya terluka dan nadir.
Meski seringkali hanya menjadi juara kedua, pemeran pengganti, tanpa pernah menjadi penghuni tetap dalam hati.
Silih berganti yang menempati hatimu itu. Aku tahu.
Namun, pernah sesekali ada perasaan yang membuat hati melambung tinggi.
Kau jadikan aku rumah, tempat untuk pulang kala senja merayap datang, kala senja tak bersayap bertengger manis menyambut dengan perasaan hangat.
Kau jadikan aku sebagai bahan pertimbangan dalam setiap pemikiran.
Lalu, ketika senja dan rindu kau lebur jadi satu. Rindu kau titipkan disela malam, dengan harapan paginya bisa kuambil diujung langit, kau pergi. Berkelana, sekali lagi, tanpa tau kapan akan kembali.
Aku masih saja menjadi bayang-bayang meski pernah kau impikan menjadi abadi dalam sebuah kisah dan memori yang terpatri.
Wahai kau yang merenggut hati, jiwa, dan raga ini.
Jika sudah cukup tugasku menjadi penghiburmu kala sepi kau rasakan, kala sendiri kau elukan, aku berhenti.
Ya, aku berhenti.
Berhenti mencarimu (karena aku telah menemukanmu).
Berhenti jatuh padamu karena jatuh tanpa sesekali kau tangkap hanya akan menambah harap.
Berhenti menghubungimu, takut satu frekuensi membuatku semakin terkapar dalam gelapnya kamar.
Berhenti menggantungkan kisah semu yang datang di waktu yang salah.
Berhenti merecokimu dengan segala sikapku.
Tapi, ketahuilah satu hal. Aku tidak berhenti ada dipikiranmu, doamu, langkahmu, dan segala aktivitasmu.

P.S:
Postingan ini didedikasikan untuk Bung Fiersa Besari. Terima kasih banyak telah menciptakan lagu yang bukan hanya sekedar enak didengar, tapi mampu menggerakkan. Sekali lagi, terima kasih, Bung. Semangat berkarya dan terus menginspirasi.

Senin, 02 April 2018

Alangkah Lebih Baik Jika...

Semangat Pagi. :)

Kehidupan setelah lulus kuliah dan sekolah (sebut saja masuk ke dunia kerja) itu lebih kompleks, ternyata. Dulu kalau masih kuliah, sekolah, permasalahan hanya seputar pelajaran, pertemanan, drama per-abg-an, ya semacam itu, yang ringan, belum berat.

Yang masih sekolah (holakes) atau kuliah (hailuk) nikmatilah masa-masa sekolahnya, kuliahnya, cari ilmu yang sungguh-sungguh, bikin bangga orang tua dan keluarga, cari pengalaman sebanyak mungkin, cari relasi, bersosial, berprestasi, gali terus bakat minat, gali potensi, cari jati diri, optimalkan waktu yang dipunyai. Hidup ga cukup buat senang-senang terus, biarkan mengalir, waktunya senang ya bergembira, waktunya sedih ya dinikmati, mungkin nanti setelah sedihnya mereda ada hikmah yang bisa dipetik.

Ngomong-ngomong soal dunia kerja yang katanya kejam, itu teserah mau bilang kejam atau gimana, sesuai sudut pandang masing-masing aja, karena tidak saklek harus sama persis, bukan? Kalau ditelusuri lagi, kalimat "dunia kerja itu kejam" menurutku bukan untuk menakut-nakuti siapa yang akan bekerja, itu hanya bekal untuk selalu waspada dan hati-hati dalam melangkah, berucap, bertindak.

Apa pun yang dilakukan, akan selalu disoroti (oleh atasan dan rekan kerja misalnya). Bisa jadi hasil jerih payahmu kerja tidak dihargai. Menghadapi hal ini? Sudah, santai saja. Sebenarnya kamu tidak perlu pengakuan dari orang lain, cukup kamu mencapai target atas usahamu sendiri, kamu senang melakukannya, rela melakukannya, niatnya ibadah sama Tuhan, merasa cukup, kamu pun akan dicukupkan Tuhan.

Jika pun orang lain masih mengomentari hasil jerih payahmu tanpa peduli seberapa besar usahamu menuntaskannya, seberapa sulit prosesnya, seberapa lama prosesnya, dinyinyirin sana-sini, ditugasi pokok dan ditambahi tugas lain-lain serta masih saja dipaido, bernapaslah, tenangkan pikiran, ademkan hati. Lalu? Diam, senyum, bangkit, bungkam mulutnya dengan tindakanmu meski tanpa sepengetahuannya, selesaikan tugasmu usahakan sebelum tenggat waktu, belajar terus buat ikhlas.

Alangkah lebih baik jika menata ulang niat buat bekerja. Niatnya buat ibadah, jangan orientasi semata-mata karena uang, terlalu percuma kalau semuanya melulu tentang uang, uang tidak berkah pun sama saja, ujung-ujungnya tetap habis lalu pusing sibuk menunggu "tanggal muda", aih. Uang hasil dari jerih payahmu ditata ulang porsinya biar tidak habis. Dibagi buat ditabung berapa persen (10% misalnya), kebutuhan sehari-hari berapa persen (30% misalnya), kebutuhan tambahan berapa (10%), menuruti keinginan (10% disimpan terus, lalu di"bobol" 10% x harga keinginan terpenuhi, mislnya) sisanya disimpan dulu, kali aja butuh sewaktu-waktu. Boleh pakai rumus lain juga, kok. Intinya tetap harus punya simpanan uang, seberapa besar atau kecil upah hasil jerih payahmu.

Alangkah lebih baik jika tidak melulu mendahulukan tradisi maido. Dari tadi ngomongin soal maido, paham? Oke singkatnya, paido (kata dasar, bisa diimbuhi awalan dan akhiran), maido (kata kerja), adalah orang yang mendahulukan komentar(pedas)nya, kritik(tajam)nya sebelum melihat proses dan hasilnya. Misalkan tentang maido makanan. "Makanannya kok gini? Bentuknya ya ampun. Kok baunya gini? Ini harga berapa kok dapatnya cuman sedikit gini?" itu yang di dalam tanda kutip contoh saja, dan masih banyak contoh yang lain. Bayangkan, misalkan yang dipaido adalah masakanmu yang sudah mulai disiapkan alat dan bahan buat masak itu dari jam 2 pagi karena harus disajikan jam 7 pagi. Kamu menyiapkannya hingga tidak tidak tidur, sibuk mengupas bawang merah bawang putih, sibuk menggoreng, sibuk di dapur di saat yang lain masih terlelap dan mendengkur. Lalu, ketika masakanmu sudah jadi, disajikan tepat jam 7, rasa legamu memenuhi target jam 7, tapi, disaat disajikan ada (saja) yang berkomentar seperti yang kutulis dalam tanda kutip tadi, bagaimana perasaanmu? Oke cukup dibayangkan, jawabannya cukup disimpan untukmu sendiri saja, dan direnungkan.
Jangan fokus dengan paidonya orang. Mengurusi perpaidoan itu menguras tenaga, pikiran, perasaan. Biarkan saja. Itu mulut mereka, cukup mulut mereka, mulutmu jangan. Kamu puas dengan masakan yang kamu buat, itu sudah cukup, komentar orang lain jadikan masukan, mungkin rasa masakanmu kurang enak, besok-besok biar lebih enak jadi terus perbaiki rasa masakannya. Misalkan setelah dikomentari masakanmu seperti itu, kamu membalas dengan marah-marah, berkacak pinggang, balas menyolot dengan adu argumen di saat pikiran masing-masing sedang panas-panasnya, mau jadi apa urusan makanan tadi? Tetap jadi makanan, tapi keberkahannya mungkin sedikit berkurang. Itu makanan, lho. Di luar sana masih ada banyak orang yang membutuhkan dan kalian masih memperdebatkan makanan yang sudah tersaji? Bersyukurlah. Bersyukur masih bisa makan. Apa kabar adik-adik yang harus bekerja banting tulang seharian terpanggang teriknya mentari, tanpa orang tua dan sanak saudara, dan makan pun masih kekurangan? Astaghfirullah, ini self reminder juga buat yang nulis juga. Bersyukurlah. Sudahi perpaidoan. Ayuk fokus saling menghargai hasil jerih payah tanpa pilih kasih, saling menjaga kehormatan, saling menghormati, baik tua mau pun muda, saling merangkul, yang membutuhkan pertolongan ayo dibantu, tebarkan senyum jangan lupa. Ingat, YOLO, You Only Life Once. Kamu Hidup Hanya Satu Kali. Manfaatkan betul-betul hidupmu di dunia, di kehidupan lain semoga bisa punya bekal yang banyak buat hidup lebih baik di sana. Aamiin

Alangkah lebih baik jika semua dianggap keluarga. Jangan saling iri. Jangan mengerucutkan dengki. Tetaplah berbuat baik meski tidak selalu mendapatkan balasan baik dari orang yang dibaiki, Tuhan yang janji akan membalas kebaikanmu, manusia tidak membalas pun ya urusan mereka.

Alangkah lebih baik jika menyiapkan diri, menghadapi apa pun yang ada di depanmu nanti.
Alangkah lebih baik jika terus berhati-hati.
Alangkah lebih baik jika terus memperbaiki diri.
Alangkah lebih baik jika menegur tanpa menyakiti.
Alangkah lebih baik jika terus berpikiran positif.
Alangkah lebih baik jika selalu bersyukur.
Alangkah lebih baik jika saling akur.
Alangkah lebih baik jika membudayakan perasaan bahagia, menebarkan rasa bahagia.
Alangkah lebih baik jika yang sudah biarkan sudah, dikenang, dibuat motivasi, lalu fokus hari ini dan masa depan, semoga bisa berbuat baik terus-menerus, berkarya, berinovasi.
Alangkah lebih baik jika tidak hanya mengandalkan upah jerih payah dari tempat yang formal, ada usaha lain yang bisa disambi, semoga yaa, sebelum masa pensiun datang harus menyiapkan usaha sejak awal biar tidak keteteran.

Masih banyak alangkah lebih baik jika yang belum tertulis. Bisa ditambahi di kolom komentar, bisa ditambahi di to-do list kalian masing-masing, bisa ditambahi di doa dan realisasinya.

Sekian. Mohon maaf lahir batin. :)

Senin, 26 Maret 2018

Gagal Romantis

Semangat pagi :) 🌞

Suatu ketika, dua anak manusia dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda, di tempat berbeda. Perkenalkan, dia kusebut sebagai Mbak Cil. Maapkan aku menyebut dirimu begitu. Wkwk Habisnya kamu lahir lebih dulu daripada aku tapi badannya masih tetep sekecil dulu waktu MTs loh. Dan aku gimana? Badanku tumbuh pesat perkembangannya, jadi gedhe duwur bringah-bringah. Haha
Me versus Mbak Cil, Terima kasih Mbak Um* udah fotoin, muah
Rabu sore, kami pulang bersama, naik motor, diselingi obrolan ngalor-ngidul. Topik bahasan kemarin jatuh pada novel yang akan difilmkan, hasil searching di Mbah Google menunjukkan bahwa dia akan rilis akhir bulan ini. Judulnya (hashtag)temantapimenikah. Aku kasih tau itu si Mbak Cil ceritanya gimana. Apa? Kamu mau tau juga? Hmm, oke. Let me tell you.

Singkat aja ya ceritanya. Kalo mau baca selengkapnya, bisa beli bukunya, atau pinjem ke perpus, atau pinjem ke aku, tapi ambil di rumah asal dibalikin lagi, jangan dibawa kabur dan tidak dikembalikan, karena itu jahat namanya. :(

Ceritanya seperti ini, dua anak manusia bersahabat dari SMP, namanya Ayu (biasanya dipanggil Ucha) sama Ditto. Ketemu pas MOS SMP, jadi teman sekelas waktu SMP. Si Ucha tomboy, jadi nyaman-nyaman aja temenan sama para cowok. Ini waktu zaman SMPnya yak, semakin berumur Ucha berubah jadi "kecewek-cewekan".
Pernah denger istilah yang kurang lebih maksudnya gini, "tidak ada cewek cowok yang berteman atas dasar pertemanan, entah cowok duluan atau cewek duluan mesti ada yang merasa minimal nyaman & suka". Dito suka sama Ucha. Tapi Ucha dan Dito ga pernah pacaran, murni berteman dan sahabatan dari SMP. Dito siap jadi teman segala keluh kesahnya Ucha, selalu ada buat dia. Jadi tempat curhatnya Ucha ketika galau, berantem sama pacar-pacarnya, begitu pun Dito. Meski pun di sini perlu digaris bawahi, jadi tempat curhat temen sendiri yang disukai itu rasanya, hmm, bisa bayangin? Yang bisa bayangin adalah korban friendzone. Hayoo ngaku. Wkwk
Dito udah banyak bikin sesuatu yang bisa membuat Ucha terpesona, niatnya gitu. Tapi Ucha biasa aja, kecuali setiap Dito main perkusi, Ucha selalu bilang Dito keren. Pukpuk Dito
Dito pernah bilang ke dirinya sendiri, ga akan jadikan Ucha sebagai pacar kalo ujung-ujungnya dia bakal nyakitin terus putus, pengennya jadikan Ucha sebagai teman hidup. Kereeeen. Nah ini mereka sahabatan dari SMP sampe udah pada lulus kuliah, 12 tahun sahabatan cuyy, lamaa. Gitu tuh Dito tetep ga punya keberanian buat bilang ke Ucha kalo dia suka. Sampai akhirnya Dito siap, dengan segala jerih payah yang dia bangun, karir dan sebagainya, Ucha pun sama, sudah berumur yang matang buat nikah. Dito kalang kabut sama pikirannya, antara bilang atau tidak sama Ucha. Lanjut ngga? Hmm. Okeh sebentar, mau tekan enter dulu.

Mereka ketemu. Dito mau ga mau harus memilih, karena itu menyangkut hidup dan matinya. Dito bilang ke Ucha, kalo aku suka sama kamu gimana? Ucha jawabannya apa? Melongo. (ada di prolog, spoiler detected, haha) Melongo dia gaes. Wkwk. Siapa yang ga melongo? Berteman selama 12 tahun terus baru sekarang menyatakan perasaannya, sama temannya sendiri. Semuanya ga ada yang nyangka. Keluarga, sahabat mereka, semuanya mengira Dito udah bercanda keterlaluan karena mau menikahi temannya sendiri. Tapi serius, Dito serius dengan apa yang diucapkan ke Ucha. Janjinya Dito buat menjadikan Ucha sebagai teman hidupnya keturutan. Ucha milih Dito. Dito milih Ucha. Mereka saling memilih, menjatuhkan hati untuk terikat janji setia sehiduo semati dengan teman sendiri. Selamaaat. Udah. Haha. Asli, mending kalian baca langsung novelnya, terus nonton filmnya, aku ga promosiin, pun ga dibayar, tapi aku cuman pengen berbagi cerita aja. Wkwk. Dan satu lagi. Hmm aku ga jago retell story, bukunya tipis tapi berbobot, ringan bacanya, asik. Jadi jadi dan jadi, mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila cerita ini dirasa kurang memuaskan rasa imajinasi pembaca sekalian. Mianhae

Balik ke topik tentang perjalanan pulangku yak.
Nah setelah aku cerita ke Mbak Cil tadi, dia jadi flashback. Haha. Dia pernah bikin story di instan messanger yang warna ikonnya ijo, isi storynya itu intinya quote ada background orangnya. Nah ada tuh yang komentar. Si komentator tadi mengira kalo penampakan sosok itu orang yang dia kenali, padahal bukan. Salah orang 🙈 si komentator tadi bisa jadi mikirnya adalah kesamaan postur tubuhnya, jawabannya Mbak Cil emang posturnya sama kalo dilihat dari belakang seperti di storynya. Hehe. Aku iseng aja nyeletuk kalo orang yang dia sukai tipe-tipe "ke(sosokyangtidakbolehdisebutkarenaharusdisensor)adadehadadehan". Ketawa dia. Haha. Kok bisa aku nyeletukin istilah gitu. Dia bilang bahasaku ngawur. Wkwk kamu mau-maunya jadi korban bahasa ngawurku. Terus ide gilaku muncul, Mbak Cil aku tantang bikin story. Wkwk malemnya dia bikin. 🙈
Istilah Ngawur, Hasil Kreativitas. Wkwk
Yang namanya tantangan pasti nanti ada buah keberhasilannya kan, sebut aja reward. Nah aku tuh emang pas masih di atas motor bilang kalo dia tertantang dan mau membuktikan hadiahnya emot jempol aja. Haha. Canda doang ding.
Aku niatnya mau kasih dia surprise biar romantis gitu meski pun ke teman cewek. Ehh jangan mikir macem-macem, cukup satu macem aja mikirnya, aku masih normal, tulen. Haha.
Surprisenya apaan? Cek gambar screenshotku sama mbak cil. Aku gemes sama dia, kadang dodolnya kumat, ehh maapin, kelepasan bilang. Wkwk.
Gagal Romantis
Nah udah tuh dia fokus nyerocos terus, aku mah udah diem aja, nanggepin sambil dongkol. Habisnya duh Mbak Cil, please deh. Wkwk
Fix, Gagal Romantis
Sampai akhirnya Mbak Cil sadar kedodolannya, membuatku benar-benar gagal romantis. Hwaaa haha. Embuh ah. Haha

Besoknya setelah kejadian gagal romantis itu, akhirnya buku itu sampai ditangan Mbak Cil. Mesem-mesem dia. Maka dalam waktu beberapa hari bukuku (buku darinya) jadi miliknya sementara soalnya dipinjem, didekapnya, dibacanya sampai habis, dengan efek berkepanjangan, bener? Wkwk. Bukan maksud gitu Mbak Cil, asli, sungguh, tapi biar dapat bahan bacaan buat belajar bareng. Hehe.

Ada beberapa quote yang aku kutip langsung dari buku itu. Ada di bawah ini. Tidak direkomendasikan untuk baper alias bawa perasaan, yaa. Okeh? *emot nutup mulut di watsap
"Sahabat adalah teman hidup terbaik. Kami berdua beruntung bisa saling memiliki. Ingat, jodoh di dekat kita. Bosan itu pasti, tapi ingat...Kami tidak akan pergi dan saling meninggalkan. (hashtag)temantapimenikah" 
"Senang bisa berbagi banyak hal dengan lo."
"Tujuan hidup gue adalah lo. Menikahi lo adalah anugerah buat gue" 
"Jodoh itu nggak usah jauh nyarinya. Lihat di sekeliling lo, siapa tahu salah satunya jodoh lo" 
"Saling mengerti, memahami, dan menguatkan."
"Tembaklah wanita yang tepat di waktu yang tepat. Jangan hanya untuk dijadikan pacar. Jadikan dia teman hidupmu sampai maut memisahkan."
"Kamu yang kutunggu."
"Cewek ini yang ngajarin gue untuk jadi playboy. Dia selalu bilang: puas-puasin, jangan nanggung, biar nanti pas nikah udah bosen jadi playboy"
"Sekarang gue bisa buktiin, gue bisa setia sama lo, dan nggak nanggung" 
"Makasih, Cha. Lo ngajarin banyak hal. Tetap jadi teman terbaik gue selamanya"
"Bicara tentang kehidupan, terima kasih untuk belasan tahun yang kita lewati dan yang akan kita lewati bersama"
"Lo teman hidup terbaik gue dan terima kasih selalu ada buat gue"
"Janji gue pada Ibu, gue tak akan pernah menyakiti istri gue"
"...Sampai detik ini masih kayak mimpi nikahin lo, coy. Jangan dilihat dari berapa harga cincin yang melekat di tanganmu, tapi selalu ingat pengorbananku untuk memilikimu selamanya." 
Tulisan ini cukup banyak, daripada sebelum-sebelumnya. Aku pun heran. Maaf. Semoga ga gumoh bacanya. *sungkem

Aku pun sadar banget kalo ini tulisan random, acak, ngawur. 🙈 apa yaa, cuman pengen berbagi aja, ada ternyata cerita macem Dito sama Ucha. Mungkin ada yang salah satunya. Atau mungkin ada yang tengah mengusahakan bisa jadi seperti itu. Dan lebih keren lagi, bikin cerita masing-masing yang keren, menginspirasi. Dito-Ucha nya udah. Ini ada yang mau aku tulis lagi. Cekidot.

Ada seorang penulis, musikus, sebut saja Bung Fiersa. Bung bilang kalo inti dari menulis itu bukan untuk menggetarkan hati pembaca, tapi mampu menggetarkan dan menggerakkan pembacanya untuk menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Nah, apa hubungannya? Aku mau berbagi pesan moral, biar aku ga lupa pernah nulis ini, biar kita sama-sama ingat, sama-sama belajar. :)

Ucapkan terima kasih. Untuk? (ucapkanlah untuk dirimu sendiri, maka dari itu aku menyebutkan "aku", mari bersiap)
  1. Terima kasih bukunya. Aku tahu kita bukan kita yang dulu. Aku masih temanmu, meski tidak menjadi teman hidupmu, hanya masa lalumu, aku berdoa semoga kamu menemukan penggantiku yang lebih baik dari pada aku, yang mampu mengimbangimu, menjadi makmummu, yang tiba di waktu yang tepat, dipersatukan dalam ikatan yang suci dan indah, bersatu dan berpisah karena maut yang memisahkan. Berbahagialah :)
  2. Tuhan. Terima kasih untuk semua kejadian dalam hidupku, aku menikmatinya, baik itu pahit-manis-asam-gerir-suka-duka-bahagia tetaplah bersyukur. Alhamdulillah, matur nuhun sanget, Gusti. :)
  3. Masa lalu. Kenapa? Karena tanpa masa lalu, aku tidak akan pernah belajar untuk menghadapi hari ini, hari esok, dan masa depan. Terima kasih telah mengajari banyak hal dengan segala proses yang menempa, semua indah, aku yakin, jika belum indah, nanti ketika waktunya tiba akan indah, semua hanya soal waktu dan campur tangan Tuhan. :)
  4. Orang-orang yang pernah "menyapamu". Terima kasih mengajakku berinteraksi menghadapi dunia yang indah ini dengan cerita-cerita yang pernah kita torehkan bersama. Aku tidak menyesal disapa olehmu, kemudian mengenalmu, aku bersyukur, tanpa adanya sosok seperti kalian, diriku yang sekarang tidak akan seperti ini. Terima kasih untuk segala pengalaman yang telah dibagikan. Semoga kalian senantiasa dalam lindungan Tuhan. :)
  5. Keadaan yang menghimpit. Terima kasih telah menghimpit tubuh, perasaan, dan semua aset yang dititipkan-Nya padaku. Tanpamu, aku tidak akan mengenal nama nadir, titik terberat dalam hidup. Adanya nadir membuatku merasakan bahwa aku ini hanya daging yang punya nama, tapi tanpa-Nya bukanlah apa-apa, lemah, tidak berdaya, maka dari itu aku butuh Dia. Nadir menjadikanku ingat mati. *take a deep breath :)
  6. Pengalaman. Kenapa pengalaman? Karena semakin berumur (maklum udah tua) akan paham arti peribahasa yang dulu waktu sekolah diajarkan, "pengalaman adalah guru terbaik" itu benar adanya. Pengalaman hidup yang kompleks mampu membentuk cara pikir, sudut pandang menghadapi keadaan, menyikapi banyak hal dengan lebih baik, menemukan jati diri, belajar, berproses, berbaik sangka terhadap garis takdir Tuhan. :)

Udah, udah cukup seriusnya. Wkwk. Btw, pas enam poin, hihi

Satu lagi, kalo kamu pernah terjebak friendzone, jangan baper. Kalo emang nyaman berteman, berteman aja, jangan pacaran, karena pacaran itu asli bener-bener ga boleh, sadar dari nonton film pendek Cinta Subuh (kalo penasaran coba cari di YouTube) wkwk. Tapi kalo niatnya berteman dan kemudian rencana dihalalkan, tunggu waktu yang tepat, kek ceritanya Dito sama Ucha tuh, kereeen. Semoga ada kisah yang bisa kita tulis masing-masing, dengan cara kita masing-masing.

Sementara, untuk dirimu yang membaca ini masih sendiri, cukupkan hanya Tuhan dihatimu, yakinlah Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik untukmu, tapi jangan cuman nunggu aja, diusahain selagi itu memungkinkan untuk bersama. Karena kalo niat berhubungan itu lihat dulu akhirnya akan seperti apa, jangan patokan dengan istilah jalani saja. Sekarang fokus memperbaiki diri, karena jodoh itu cerminan diri, mau jodoh yang sholeh ya usaha dong buat jadi sholehah, pasti dikasih jalan. ^^

Terakhir, janji ga nambah. haha. Tulisan ini memang klise, yang dibahas ujung-ujungnya cinta-cintaan, tapi ada maksud tersirat yang lain selain itu, maka dari itu sebelum ditarik kesimpulan bahwa tulisan ini menye-menye penuh cinta, ada baiknya penutupnya dengan video dari Bung.


Sekian. Semoga yang ditinggalkan bisa saling merelakan, semoga yang mengalami hal serupa bisa bersyukur, semoga yang dikode bisa peka, halah yang terakhir ngawur. 🙊 pokoknyaaaa, gapapa gagal romantis, yang penting maksudnya bisa tersampaikan. Romantis engga-nya itu relatif. Soal me dan di, menerima dan diterima. :)
Terima kasih sudah membaca. :)

Selasa, 13 Maret 2018

Senja (Tak) Bersayap

Senja (Tak) Bersayap.

Memang judul ini terinspirasi dari karya Bung Fiersa Besari. Padahal banyak karya lainnya tapi jatuhnya ke sini.

Hmm, bicara soal senja. Siapa yang ga suka dia? Siapa sih yang ga suka warnanya? Oranye, menghangatkan, mesti langsung inget Kaka Harry Style, sukanya warna oranye. Wkwk. Aku ketularan, tapi jarang make warna oranye buat baju, kalo baju dominan merah-hitam-putih, kalo warna oranye mentok-mentok di peralatan. Kek misalnya kotak makan, botol minum, sendok, rak piring (waktu di kos), handuk, polpen, serba warna oranye. Wkwk 🙏

Eh ngelanturnya udahan. Haha. Lanjut lagi. Fokus.

Pernah suatu ketika, melihat senja. Menyimpannya pada potret mata, diproses otak, dirasa hati, adem. Lalu, Senja itu berwujud dalam sebuah video, terekam indah. Tidak janjian. Tapi bisa samaan.

Senja. Kamu apa kabar? Warnamu tidak secerah ketika musim kemarau, musim penghujan kamu terlihat murung. Aku rindu warnamu. Tapi apa dayaku? Kamu ciptaan Tuhan, dinikmati berjuta pasang mata, pantaskah hanya aku yang merindukanmu? Tidak. Cukup aku menyimpan warnamu dalam benakku. Cukup aku mendoakanmu agar selalu berwarna memancarkan kehangatan. Ingatlah, aku akan selalu menjadi orang di garis terdepan melihatmu, meski kamu tidak terlihat dan ketika kamu terlihat.

Selamat malam, Senja.

Sabtu, 10 Maret 2018

Drafted

Halo!
Aku menghilang dari peradaban Blogger. Rindu ngga? Jangan yak. Rindu itu cuman titipan, bakalan diambil lagi sama Sang Pemilik Rindu. Hehe

Di sini sudah malam, biasanya disebut sabtu malam, bener sih, tapi biasanya juga disebut malem minggu, sama aja sih yaa, ga ada bedanya. Wkwk. Paling beda pengucapan ini bagi orang-orang yang mempermasalahkan status. Aku termasuk jangan? Aku lupa, lupa sama hari. Gegara libur kerjanya hari jumat. 🙈

Udah lama banget ga buka ini, ga nulis di sini, padahal banyaakkk banget yang udah di draft, it's called drafted, tinggal diisi terus di publish, tapi ga pernah sempat. Emang ga mau menyempatkan kali ya? Hehe. Maapkeun

Terakhir post kapan ya? Tahun lalu keknya. Dihh. Lama banget jaraknya. Asli yaa, nulis di sini itu sebenernya enak, tapi kurang waktu, kurang luwes, kudu nulis banyak, kan eman karakternya banyak tapi diisi cuman sedikit. Tapi kalo nurutin alibiku yang kebangetan banyaknya gini bakalan ga akan pernah di publish tulisan-tulisan di sini. Wkwk

Aku terlalu banyak cuap ya? Maap, khilap. ✌
Jadi, ga akan bertele-tele lagi, aku habis ini akan ngomong pada intinya yang aku post ini. Tidak banyak kok. Iyaa sebentar lagi aku mengakui dan menjelaskan alasannya. Sabar dong. Dihh bentar sabar dulu, hampir lupa ini mau ngomong apa, ojo digupuhi makane. Sek talah. Diluk maneh tak bisiki, tak omongi, sabaaaar.

Intinya, aku mau ngomong.
Ngomong.
Kalo.
Aku.
Kembali.
Udah.
Jangan kangen lagi.
Oke?
Aku masih ada.
Di sini.
Cari aja.
Satu nama untuk semua akun kok. Bebas mau stalking-in kepunyaanku, ga bayar, kamu cuman butuh paket data aja. Risiko kalo paket data habis ditanggung masing-masing yak. Aku ngga ikut-ikut. Wkwk

Sabtu, 29 April 2017

Bukan Karena Tetapi Meskipun

Bukan karena, tetapi meskipun

Cinta. Suka. Sayang. Apapun yang disebutkan manusia sejagad, intinya ini tentang rasa.
Rasa teramat dalam yang kurasakan, entah karena atau meskipun.
Rasa takut kehilangan sosok yang selalu tersimpan dalam hati yang terdalam.
Rasa ini bermula ketika terbiasa, terbiasa main bareng, terbiasa saling membutuhkan, terbiasa kemana-mana bareng, tumbuh menjadi benih, terus tumbuh tinggi, berbunga, dan hingga akhirnya bermekaran.
Mekar yang indah.
Deskripsiku tentang rasa ini adalah indah. Bagaimana denganmu? Kuharap sama indahnya.

Kurasa, aku terlalu jatuh, jatuh yang indah, jatuh yang tidak berdarah maupun tergores, jatuh berkali-kali. Tapi aku tidak menyesal telah jatuh cinta, atau jatuh hati? Apa sajalah, pokoknya asal kau tahu apa maksudku ini.

Jatuh yang kurasa, berkali-kali. Rasa yang hadir berbeda-beda. Sedih-suka-bahagia-nelangsa-gembira-merana, ya seperti itu saling melengkapi. Jatuhku ini tidak kusesali.

Pernyataannya, meskipun banyak yang kurasakan dalam rasa ini, aku tetap suka. Sebab ini tentang "meskipun", bukan "karena".

Maaf kalau aku lancang, maaf kalau aku seperti ini. Maafkan aku.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari isi hatiku. ❤

Rabu, 12 April 2017

Lari

Dan, kamu harus bangkit untuk mencapai harapan yang baru saja kau tulis. 
Selemas apapun kaki melangkah, kudu melangkah. 
Karena berdiam diri sama dengan menyerah. 
Mau nyerah? 
Perjalananmu sudah sejauh ini.

Ingat, di rumah ada yang selalu merapalkan doa. 
Ingat, harapan mereka untukmu yang sudah sejauh ini melangkah.

Jangan berhenti disini, jalan lagi, kalau perlu lari lagi, sampai darah tak mengalir lagi.

Harapan

Pada Tuhanku, kucurahkan rasaku
Pada pagi yang bersinar, pinjami aku terangmu
Pada siang yang panjang, tuntunlah aku
Pada malam yang gelap, terangi aku dalam gelapku

Pada keadaan yang menghimpit
Semoga selalu ada hikmah dibalik rasa sakit
Pada keadaan yang sulit
Semoga selalu ada kekuatan untuk bangkit

Peluh, air mata, menetes dalam rongga jiwa
Sedih, kecewa, terkubur dalam luka
Senyum, tawa, terukir dalam doa
Harapan, mimpi, dan asa, akan kugapai dengan usaha

Langkah kaki yang terseok-seok ini
Langkah kaki tergores besi
Langkah kaki tergores kerikil berduri
Langkah kaki kan tetap tegar sampai nanti

Selalu tersimpan harapan indah dibalik semua tinta goresan yang dituliskan Tuhan ⭐

Jumat, 28 Oktober 2016

Resensi Novel Ayah Karya Andrea Hirata

Resensi Novel Ayah Karya Andrea Hirata, Membaca itu asik. Apalagi membaca novel. Padahal seharusnya bukan hanya novel yang harus dibaca. Hehe, gapapalah, bonus aja mumpung minat membaca masih ada dalam diriku. Karena banyak yang bilang, dan memang kutemui juga setelah melaksanakan KPL alias PPl (versi jaman doeloe) minat membaca memang bisa dihitung jari. 

Kenapa? Apa masalahnya? Gadget secara tidak sadar telah membuat suatu gravitasi dalam hidup, seakan-akan kalau tanpa gadget kita tidak bisa hidup, aku pun juga mengakuinya. Tapi sudahlah, kita berdoa saja agar minat membaca itu selalu bertambah di era modern ini dengan hadirnya novel, karya ilmiah, blog, status, tweet, caption maaf merembet kemana-mana. -_- intinya, marilah kita tanamkan budaya gemar membaca sejak sempat, karena membaca adalah travelling paling mudah.

Kali ini saya akan menceritakan sedikit review tentang novel yang sore ini baru saja saya khatamkan, alhamdulillah.
Reviewnya sudah saya cantumkan di akun Goodreads yang terhubung dengan akun sosial media, Facebook saya juga kok, kurang lebih reviewnya seperti ini, 

sudut pandang yang benar-benar diluar nalar. amazing novel, seperti novel terdahulunya Andrea Hirata.
Awal ceritanya berkisah humor, namun ternyata berakhir mengharu biru.
Kisah cinta Sabari kepada Zorro a.k.a Amiru menunjukkan bagaimana ayah yang mencintai anaknya dengan tulus hati. Kisah cinta Sabari dengan Marlena yang membuat geram namun menyayat hati, berakhir dengan romantisme yang berbeda.

Pesan moralnya, sadari apa yang sudah didapatkan sekarang, dijaga, jangan sampai menyesal dikemudian hari ketika sudah kehilangan.

Terima kasih sudah mau membaca post #Isya, semoga bermanfaat. Apabila ada perkataan yang kurang berkenan saya memohon maaf kepada pembaca. :)

Kamis, 13 Oktober 2016

Resensi Novel Pulang Karya Tere Liye

Resensi Novel Pulang Karya Tere Liye. Novel yang menceritakan tentang perjalanan pulang. Alur cerita yang maju-mundur membuat tegang, bertanya apa yang akan terjadi berikutnya, menerka dengan imajinasi cerita selanjutnya, memacu adrenalin layaknya seperti menonton film action.
Perjalanan pulang. Benar-benar "pulang" pada hakikat yang sebenarnya. Ketika rasa takut menghantui karena kehilangan semangat, motivasi, merasa ingin menyerah pada hal yang fana dan mudah sirna, saat itulah ada yang menunggumu untuk pulang.

Beberapa cuplikan yang kupetik dari novel Pulang.
"Samurai adalah perjalanan hidup, Bujang.
"Tapi saat kau tiba pada titik itu, maka kau akan mengerti dengan sendirinya. Itu perjalanan tidak mudah, Bujang. Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu, tapi diri sendiri, menaklukkan monster yang ada di dirimu. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja."
"Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran."
"Penyerangan apa pun yang tidak berhasil menghabisi kita, justru akan membuat kita semakin kuat. Penyerbuan apa pun yang tidak berhasil membenamkan kita, justru akan membuat kita berdiri semakin tegak.
Kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain.
Belum pernah aku melihat sebuah kajian yang begitu mendalam dan begitu detail. Kau seperti berada di dalamnya."
"Semoga kau senantiasa sukses di sana, Nak. Kau tahu, Bujang, tiada pernah alpa walau semalam pun, tiada pernah tinggal walau sehari pun, mamak kau mendoakan kau yang terbaik. Dia selalu merindukanmu, selalu menyebut namamu dalam doa semasa hidup. Ingatlah apa pun pesan namak kau, Bujang. Patuhi hingga kapan pun."

Semoga resensi yang kutulis, yang kucuplik ini bermanfaat. Jangan pernah bosan membaca. Karena dengan membaca maka jendela dunia kau buka. :)